JAKARTA, Menarapos.id — Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo kembali menerima penghargaan Green Leadership dalam Anugerah Lingkungan PROPER 2025 yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup. Ini menjadi kali ketiga penghargaan serupa diberikan kepadanya.
Pada saat yang sama, PLN mencatatkan 11 PROPER Emas dan 35 PROPER Hijau sepanjang 2025. Capaian tersebut menempatkan perusahaan listrik negara itu di antara korporasi dengan penilaian kinerja lingkungan tertinggi versi pemerintah.
Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq menyebut penghargaan PROPER sebagai instrumen untuk mendorong dunia usaha melampaui kepatuhan dasar terhadap regulasi lingkungan. “Ada kontribusi pada efisiensi sumber daya dan pencegahan pencemaran,” kata Hanif dalam acara penganugerahan di Jakarta, 7 April 2026.
Namun, capaian tersebut datang di tengah tuntutan percepatan transisi energi dan penurunan emisi karbon di sektor ketenagalistrikan—yang selama ini masih bergantung pada pembangkit berbasis fosil, terutama batu bara.
PLN menyatakan telah meningkatkan reduksi emisi dari 12,9 juta ton CO2 pada 2021 menjadi 51,1 juta ton CO2 pada 2025. Perusahaan juga melaporkan kapasitas energi baru terbarukan mencapai sekitar 9,4 gigawatt.
Di sisi lain, ekspansi pembangkit berbasis gas masih berlangsung, dengan produksi listrik mencapai 33,7 terawatt hour pada 2025. Gas kerap diposisikan sebagai energi transisi, meski tetap menghasilkan emisi karbon.
Dalam beberapa tahun terakhir, PLN juga mulai mengembangkan hidrogen hijau. Fasilitas pertama dibangun di PLTGU Muara Karang, disusul proyek berbasis panas bumi di Kamojang pada 2024. Hingga kini, perusahaan mengklaim memiliki 22 fasilitas produksi hidrogen dengan kapasitas total 203 ton per tahun.
Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menyebut penghargaan PROPER sebagai bagian dari transformasi perusahaan. “Bukan sekadar kepatuhan, tetapi akselerasi,” ujarnya.
PLN menargetkan mencapai Net Zero Emissions pada 2060, dengan strategi yang mencakup pengembangan energi terbarukan, efisiensi operasional, dan program dekarbonisasi lainnya. Namun, efektivitas langkah tersebut masih akan diuji oleh konsistensi pengurangan ketergantungan pada energi fosil dalam jangka panjang. (rel)






