Headline

Rico Sorot Kinerja PUD RPH: Aset Luas, Pendapatan Minim, Diminta Bangun Cold Storage dan Hilirisasi Daging

322
×

Rico Sorot Kinerja PUD RPH: Aset Luas, Pendapatan Minim, Diminta Bangun Cold Storage dan Hilirisasi Daging

Sebarkan artikel ini

MEDAN, Menarapos.id – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menilai kinerja Perusahaan Umum Daerah (PUD) Rumah Potong Hewan (RPH) Kota Medan belum sebanding dengan besarnya aset yang dimiliki. Perusahaan daerah yang mengelola lahan sekitar lima hektare itu masih bergantung pada pendapatan jasa pemotongan ternak. Rico meminta direksi segera mengembangkan fasilitas cold storage, membangun hilirisasi produk daging, serta mengoptimalkan aset yang belum produktif untuk menciptakan sumber pendapatan baru.

Pernyataan itu disampaikan Rico saat memimpin Rapat Monitoring dan Evaluasi PUD RPH Triwulan III di Rumah Dinas Wali Kota Medan, Selasa (28/7/2026). Rapat dihadiri Sekretaris Daerah Kota Medan Wiriya Alrahman, Asisten Umum Laksamana Putra Siregar, jajaran pimpinan perangkat daerah, Direktur Utama PUD RPH Irwansyah Gultom, serta jajaran direksi.

Dalam evaluasi tersebut, Rico menegaskan PUD RPH tidak boleh lagi bersikap pasif menunggu peluang usaha. Direksi diminta aktif menawarkan kerja sama kepada perusahaan-perusahaan yang bergerak di sektor peternakan dan pengolahan daging, termasuk di Pulau Jawa.

“Kalau memang perlu, jemput bola. Datangi perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang daging, tawarkan proposal kerja sama. Kita tidak bisa lagi hanya menunggu peluang datang,” kata Rico.

Namun, ia mengingatkan bahwa upaya menarik investor tidak akan efektif jika persoalan internal perusahaan belum dibenahi. Menurut Rico, pembenahan tata kelola, sistem kerja, hingga standar operasional merupakan syarat utama untuk membangun kepercayaan calon mitra.

Rico juga menyoroti rendahnya pendapatan perusahaan dibandingkan aset yang dikelola. Berdasarkan paparan dalam rapat, jumlah pemotongan sapi tertinggi hanya mencapai sekitar 892 ekor per bulan. Angka tersebut dinilai belum mampu menopang kesehatan keuangan perusahaan.

“Kalau ingin perusahaan ini benar-benar sehat, jumlah pemotongan harus meningkat beberapa kali lipat. Dengan kondisi sekarang, perusahaan akan stagnan. Kita tentu tidak ingin RPH berjalan tetapi perlahan-lahan mati,” ujarnya.

Selain meningkatkan volume usaha utama, Rico meminta aset yang belum memberikan nilai ekonomi segera dimanfaatkan. Bila tidak dapat dikelola sendiri, aset tersebut dapat dikerjasamakan dengan pihak ketiga sesuai ketentuan yang berlaku agar menghasilkan pendapatan baru.

Salah satu usulan yang mengemuka ialah pengembangan kawasan peternakan unggas. Rico meminta lahan yang tersedia segera diukur, dilakukan penilaian melalui Kantor Pelayanan Kekayaan Negara dan Lelang (KPKNL), lalu ditawarkan kepada investor dengan skema kerja sama yang saling menguntungkan.

Ia juga menekankan pentingnya pengembangan cold storage dan hilirisasi produk daging agar PUD RPH tidak lagi hanya mengandalkan jasa pemotongan ternak.

“Hilirisasi harus mulai dipikirkan. Produk turunannya bisa berupa bakso, kornet, maupun olahan daging lainnya. Jadi sumber pendapatan perusahaan semakin beragam,” katanya.

Rico meminta proposal pengembangan disusun secara lengkap dalam pekan ini. Dokumen tersebut harus memuat rencana bisnis, analisis kelayakan, serta daftar calon mitra strategis yang akan ditawarkan kerja sama.

Menutup arahannya, Rico menegaskan rapat evaluasi bukan untuk mencari kesalahan direksi, melainkan memastikan setiap persoalan menghasilkan langkah perbaikan yang terukur.

“Kami tidak ingin menyalahkan RPH. Kami ingin RPH menjadi lebih baik. Karena itu setiap evaluasi harus menghasilkan solusi, bukan sekadar menyampaikan data mentah. Pada pertemuan berikutnya saya ingin melihat data yang sudah matang, argumentasi yang kuat, serta progres nyata dari seluruh rencana pengembangan yang telah disepakati,” pungkasnya.(rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *