Politik

Gerindra: Diplomasi Aktif Prabowo Pertegas Indonesia sebagai Pemain Kunci Global

318
×

Gerindra: Diplomasi Aktif Prabowo Pertegas Indonesia sebagai Pemain Kunci Global

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, Menarapos.id – Juru Bicara Partai Gerindra, Sugiat Santoso, merespons kritik diplomat senior Dino Patti Djalal terkait intensitas kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, diplomasi aktif yang dijalankan Prabowo merupakan langkah strategis untuk memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik global yang kian kompleks.

Sugiat mengatakan pihaknya menghormati pandangan Dino sebagai diplomat senior. Namun, ia menilai situasi dunia saat ini menuntut pendekatan diplomasi yang berbeda dibandingkan masa lalu.

“Kami menghormati pandangan Pak Dino sebagai diplomat senior. Namun, kita harus melihat konstelasi global hari ini yang sedang tidak baik-baik saja. Di tengah ketegangan geopolitik dunia, kehadiran Pak Prabowo di panggung internasional bukan sekadar kunjungan kerja biasa, melainkan langkah proaktif untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi penonton, tapi ikut mewarnai arah kebijakan global yang berdampak langsung pada stabilitas ekonomi dalam negeri,” kata Sugiat, yang juga Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI.

Menurut Sugiat, lanskap hubungan internasional telah berubah sehingga diplomasi tidak lagi bisa dijalankan hanya melalui pendekatan konvensional. Kehadiran langsung kepala negara, kata dia, menjadi instrumen penting untuk memperkuat pengaruh Indonesia di tingkat global.

“Kita harus memahami bahwa lanskap global hari ini sudah berubah total. Kritik Pak Dino mungkin lahir dari perspektif diplomasi konvensional era lama. Namun di era seperti sekarang ini, kebijakan luar negeri tidak bisa lagi dijalankan dari balik meja penasihat atau sekadar menanti laporan di menara gading. Pak Prabowo sedang mempraktikkan apa yang disebut peta jalan pengaruh. Kehadiran fisik, jabat tangan langsung, dan dialog tatap muka antar-pemimpin negara adalah mata uang tertinggi dalam diplomasi modern,” ujarnya.

Ia menegaskan tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo sejalan dengan meningkatnya peran Indonesia di panggung internasional. Menurutnya, banyak negara kini menginginkan keterlibatan Indonesia dalam berbagai isu strategis global.

“Mengapa kunjungan luar negeri ini begitu intens? Jawabannya sederhana: karena dunia yang meminta kehadiran Indonesia. Di bawah kepemimpinan Pak Prabowo, Indonesia tidak lagi memosisikan diri sebagai objek yang pasif, melainkan subjek yang menentukan,” katanya.

Sugiat menilai Prabowo membawa posisi tawar yang kuat sebagai pemimpin negara dengan potensi ekonomi besar sekaligus representasi negara-negara berkembang atau Global South.

“Saat Pak Prabowo berkunjung, beliau membawa posisi tawar yang besar sebagai raksasa ekonomi baru, pemimpin Global South, dan jangkar stabilitas Asia Tenggara. Jadi, mari kita ubah cara pandang kita. Kita tidak sedang mengetuk pintu negara lain, kita sedang memenuhi undangan sebagai pemain kunci dunia,” ujarnya.

Lebih lanjut, Sugiat menyebut diplomasi yang dijalankan Prabowo dilakukan secara berimbang kepada negara-negara mitra strategis, baik di kawasan Barat maupun Timur. Langkah itu, kata dia, merupakan implementasi nyata politik luar negeri bebas aktif Indonesia.

“Jika sebelumnya politik luar negeri kita dinilai terlalu pasif, Pak Prabowo mempraktikkannya dengan lebih dinamis. Pak Prabowo mendatangi negara-negara mitra utama secara berimbang, baik Barat maupun Timur, untuk menegaskan bahwa Indonesia bersahabat dengan semua pihak, tetapi tidak bisa didikte oleh siapa pun. Ini adalah wujud nyata dari kedaulatan bangsa,” katanya.

Sugiat juga menepis anggapan bahwa diplomasi luar negeri tidak berkaitan langsung dengan kepentingan masyarakat. Menurutnya, berbagai kerja sama yang dijalin pemerintah bertujuan memperkuat kesejahteraan rakyat.

“Mungkin ada kesan bahwa urusan luar negeri itu jauh dari urusan rakyat kecil. Padahal sebaliknya. Ketika Pak Prabowo berbicara tentang ketahanan pangan, transfer teknologi pertahanan, atau kerja sama energi di luar negeri, tujuannya satu yaitu memastikan pasokan untuk dalam negeri aman, investasi masuk, dan lapangan kerja tercipta,” ujarnya.

Ia menambahkan, Prabowo dikenal sebagai pemimpin yang bekerja cepat dan terukur dalam setiap agenda diplomasi, termasuk kunjungan ke luar negeri.

“Setiap kunjungan selalu terukur dengan agenda yang padat dan konkret, mulai dari kesepakatan strategis hingga pengakuan internasional terhadap posisi Indonesia. Menghadapi dinamika dunia yang bergerak secepat kilat, diplomasi meja makan atau sekadar lewat surat tentu tidak lagi cukup,” katanya.

Meski demikian, Sugiat menegaskan Gerindra tetap terbuka terhadap kritik dan masukan dari berbagai kalangan, termasuk para pakar hubungan internasional. Ia pun mengajak Dino Patti Djalal untuk terus memberikan pandangan konstruktif bagi pemerintah.

“Sebagai partai yang terbuka, Gerindra melihat kritik dari tokoh seperti Pak Dino sebagai vitamin bagi demokrasi. Kami justru mengajak beliau dan para pakar hubungan internasional lainnya untuk terus memberikan masukan konstruktif. Mari kita kawal bersama agar posisi tawar Indonesia di dunia internasional yang saat ini sedang kuat-kuatnya, bisa memberikan manfaat maksimal bagi seluruh rakyat Indonesia,” tutupnya.(rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *