MEDAN, Menarapos.id – Tujuh bulan sudah Rudy memutus hubungan dengan kendaraan berbasis bahan bakar fosil. Di balik kemudi mobil listriknya, ia menemukan kenyamanan dan efisiensi biaya yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya.
Namun, di balik senyum puasnya, ada satu bayang-bayang ketakutan yang kerap menghampiri tiap kali kakinya bersiap menginjak pedal gas untuk perjalanan jauh.
”Kalau perjalanan jauh, yang saya takutkan itu apakah di tempat tujuan nanti ada SPKLU atau tidak. Takutnya sampai di sana tidak ada tempat mengecas,” aku Rudy jujur.
Ungkapan hati itu tidak disampaikan Rudy di forum maya atau media sosial, melainkan langsung di hadapan Komisaris Independen PT PLN (Persero), Prof. Dr. Ali Masykur Musa. Suasana santai namun hangat tercipta di lounge Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) Kantor PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatera Utara, Medan, Sabtu (31/10/2026), sebagaimana dalam siaran persnya Minggu (01/11/26)
Ali Masykur yang tengah meninjau fasilitas SPKLU sengaja mengambil jeda. Ia memilih duduk, menyapa, dan mendengarkan denyut suara konsumen yang telah mendahului arus transisi energi ini.
Tak Ada Penyesalan, Hanya Butuh Kepastian
Meski rasa cemas mengintai di rute jarak jauh, Rudy tegas mengaku tidak menyesal. Keputusannya bermigrasi ke kendaraan listrik (Electric Vehicle/EV) murni lahir dari kalkulasi matematis dan kesadaran diri.
”Saya lihat dan hitung lebih hemat. Jadi saya beralih ke mobil listrik. Ternyata setelah digunakan, lebih nyaman, enak, dan lebih efisien,” tuturnya sembari tersenyum.
Pengalaman Rudy adalah cerminan dari jutaan calon pengguna EV di Indonesia: kenyamanan sudah tergenggam, namun rasa aman butuh jaminan. Keberadaan infrastruktur dan keterbukaan informasi lokasi charging station menjadi kunci jawaban agar masyarakat tidak ragu melangkah.
Mendengar curhatan tersebut, General Manager PLN UID Sumatera Utara, Rizky Mochamad, tak tinggal diam. Ia membeberkan bahwa kekhawatiran seperti yang dialami Rudy adalah bahan bakar bagi PLN untuk terus bergerak cepat.
Hingga akhir Oktober 2026, peta pengisian daya di Sumatera Utara telah berubah drastis. Sebanyak 145 unit SPKLU kini mengepung 116 titik lokasi strategis di seantero Sumut.
”Kami sangat memahami kekhawatiran itu. Karena itulah PLN terus memperluas jaringan SPKLU. Saat ini 145 unit SPKLU di 116 lokasi siap melayani, demi memberikan rasa tenang dan meningkatkan percaya diri masyarakat menggunakan EV,” jelas Rizky.
Antisipasi ‘Horor’ Kehabisan Daya di Jalan via Layanan Digital
Tak cuma soal penambahan tiang pengisi daya, PLN menyadari tantangan mobilitas butuh solusi di genggaman tangan. Melalui aplikasi PLN Mobile, fitur Trip Planner kini disiapkan sebagai ‘pemandu jalan’ bagi pengemudi EV.
Dengan fitur ini, pengemudi bisa menghitung jarak tempuh, estimasi konsumsi baterai, hingga memetakan di SPKLU mana mereka harus berhenti sejenak sebelum baterai menyentuh angka kritis.
Bahkan untuk menghindari ‘horor’ antrean panjang, fitur AntreEV turut dihadirkan secara real-time. Pengguna bisa memantau dan mengamankan nomor antrean secara digital.
”Kami ingin memastikan pertumbuhan kendaraan listrik di Sumut seiring sejalan dengan kesiapan infrastruktur dan kemudahan akses. Baik untuk rutinitas harian maupun menjelajah rute antar-kota, masyarakat harus merasa aman,” tambah Rizky.
Demi Masa Depan Anak Cucu
Bagi Ali Masykur Musa, dialog singkat di sudut lounge SPKLU Medan tersebut memberikan gambaran nyata. Masukan dari pengemudi seperti Rudy adalah peta jalan bagi PLN dalam memoles kualitas pelayanan.
”Kenyamanan dan keamanan pelanggan adalah yang utama. Pertumbuhan EV harus berimbang dengan kesiapan infrastruktur. PLN harus memastikan masyarakat tidak ragu lagi,” tegas Ali Masykur.
Ia menambahkan, dorongan menuju ekosistem EV bukan sekadar mengikuti tren teknologi, melainkan warisan bagi generasi mendatang.
”Kendaraan listrik adalah bagian dari langkah kita membangun transportasi ramah lingkungan. Apa yang kita perjuangkan hari ini bukan hanya untuk detik ini, tapi untuk menjaga kualitas lingkungan dan kehidupan anak cucu kita di masa depan,” pungkasnya.
Di sudut kota Medan hari itu, perbincangan singkat antara pengguna dan pengambil kebijakan menjadi sinyal kuat: transisi energi tak lagi sebatas teori di atas kertas, melainkan cerita nyata di perjalanan sehari-hari.(ac)






