Headline

Rico: Ulos Siap Bersaing di Pasar Global Diacara MFCF 2026

311
×

Rico: Ulos Siap Bersaing di Pasar Global Diacara MFCF 2026

Sebarkan artikel ini

MEDAN, Menarapos.id – Peringatan Hari Ulos Nasional mewarnai puncak Medan Fashion Culture Festival (MFCF) 2026 bertema Ulos in Innovation di Atrium Sun Plaza Medan, Sabtu (17/10/2026). Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas berharap tenun tradisional dan produk kriya lokal mampu menembus pasar nasional hingga internasional melalui inovasi, peningkatan kualitas, dan penguatan ekosistem industri kreatif.

Rico Waas bersama Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Medan, Airin Rico Waas, menegaskan bahwa pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pengembangan usaha. Pengrajin, desainer, dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) perlu mendapat pembinaan berkelanjutan, akses promosi, serta kesempatan memperluas jaringan pemasaran.

Menurut Rico, MFCF menjadi salah satu upaya Pemerintah Kota Medan untuk mengangkat potensi kriya Nusantara yang dihasilkan para pengrajin dan pelaku industri kreatif. Produk berbasis budaya dinilai memiliki nilai seni dan sejarah yang tinggi sehingga perlu diperkenalkan lebih luas kepada masyarakat.

“Target kita adalah bagaimana mengembangkan kriya Nusantara yang diproduksi dari Kota Medan. Banyak desainer dan UMKM kita memiliki karya kreatif dengan nilai sejarah puluhan hingga ratusan tahun. Karya-karya bernilai tinggi ini perlu diketahui masyarakat luas agar mereka bangga, sekaligus membawa pesan ke kancah global bahwa produk berkualitas tinggi ini datang dari Indonesia,” ujar Rico.

Ia menekankan, upaya memajukan kebudayaan tidak cukup hanya mengandalkan kreativitas desainer dan penjahit. Seluruh mata rantai industri, mulai dari pengrajin, produsen, penjual, promosi, hingga regenerasi pelaku budaya, perlu diperkuat agar menghasilkan dampak ekonomi yang berkelanjutan.

Untuk memperluas pasar, Pemko Medan menyiapkan pembinaan berkelanjutan, pelatihan peningkatan kualitas produk, serta kolaborasi dalam berbagai pameran di luar daerah. Pemanfaatan jejaring kerja sama sister city dengan sejumlah negara juga direncanakan menjadi salah satu jalur untuk memperkenalkan produk UMKM Medan ke pasar internasional.

Rico berharap masyarakat semakin terbiasa mengenakan Ulos dan produk tenun lokal dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah menghadirkan desain busana modern yang tetap menghormati filosofi dan nilai tradisional.

“Tak kenal maka tak sayang. Kalau kita sudah mengenal akar budaya dan sejarah Ulos, tentu kita akan semakin mencintainya,” ungkapnya.

Menurut Rico, Ulos memiliki makna mendalam dalam kehidupan masyarakat Batak, mulai dari kelahiran, kebahagiaan, hingga pernikahan. Karena itu, pelestariannya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus diwujudkan melalui penggunaan, pengembangan, dan pewarisan kepada generasi berikutnya.

Ia berharap MFCF 2026 memberikan dampak nyata bagi masyarakat, sekaligus membuka peluang bagi tenun tradisional untuk semakin dikenal di tingkat nasional dan internasional.

Sementara itu, Ketua Dekranasda Kota Medan, Airin Rico Waas, mengatakan MFCF 2026 menghadirkan pendekatan berbeda melalui kolaborasi lintas daerah yang mempertemukan desainer, stylist, narasumber, dan pelaku industri kreatif dari Medan maupun Jakarta.

Melalui diskusi dan peragaan busana, para pelaku industri kreatif diharapkan dapat bertukar pengalaman, memperluas wawasan, meningkatkan kualitas karya, serta membuka peluang kerja sama.

“Melalui kolaborasi ini, para desainer dan pelaku industri kreatif di Medan dapat saling berbagi pengalaman dan memperoleh inspirasi baru. Visi kami dalam lima tahun ke depan adalah membawa ekosistem fashion Kota Medan tidak hanya berkiprah di tingkat nasional, tetapi juga menembus panggung internasional,” tutur Airin.

Ia menambahkan, kemajuan industri fashion berbasis budaya tidak hanya ditentukan oleh kreativitas perancang busana. Keterhubungan antara pengrajin wastra, pembuat aksesori, pelaku UMKM, dan jaringan pemasaran juga menjadi faktor penting dalam memperkuat daya saing produk lokal.

Airin menilai, perkembangan industri fashion dapat memberikan efek berganda (multiplier effect) bagi perekonomian masyarakat. Semakin luas penggunaan wastra Nusantara, semakin terbuka pula peluang pasar bagi pengrajin Ulos, Tenun Melayu, Uis Karo, serta pelaku usaha pendukung seperti pembuat tas dan aksesori lokal.

Untuk mendukung hal tersebut, Dekranasda Kota Medan membuka ruang promosi bagi pelaku usaha lokal melalui stan dalam gelaran MFCF 2026. Beragam produk ditampilkan, mulai dari busana, tas, aksesori, kerajinan tangan, hingga kuliner. Produk wastra dari Bhayangkari juga turut meramaikan pameran.

MFCF 2026 berlangsung pada 13–18 Oktober 2026 dengan menghadirkan parade busana, fashion show, tarian etnik Batak, diskusi mengenai fashion dan wastra, serta penampilan pelajar dan alumni sekolah desain mode. Keterlibatan desainer muda menjadi bagian dari upaya menyiapkan regenerasi sekaligus memberikan ruang bagi talenta lokal untuk menunjukkan karya mereka.

Airin menegaskan, peringatan Hari Ulos Nasional menjadi momentum untuk mengingat bahwa Ulos bukan sekadar kain dengan keindahan visual. Di dalamnya terkandung nilai kasih sayang, doa, dan filosofi kehidupan yang diwariskan secara turun-temurun.

Karena itu, inovasi dalam industri fashion harus tetap berlandaskan penghormatan terhadap makna dan nilai budaya. Tradisi diharapkan dapat berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan identitasnya.

Sebagai kota yang memiliki keberagaman etnis, Medan juga mempunyai kekayaan wastra yang dapat menjadi fondasi pengembangan industri kreatif. Selain Ulos, Airin berharap Uis Karo dan Tenun Melayu memperoleh ruang promosi yang lebih luas melalui kegiatan serupa.

“Tradisi dan modernitas bisa berjalan bersama. Namun, setiap inovasi harus tetap menghormati makna, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya,” ucap Airin.

Melalui MFCF 2026 bertema Ulos in Innovation, Pemko Medan dan Dekranasda berharap pelestarian budaya dapat berjalan beriringan dengan pertumbuhan ekonomi kreatif. Penguatan pembinaan, peningkatan kualitas produk, promosi, dan kolaborasi lintas sektor diharapkan membuka peluang lebih besar bagi pengrajin serta pelaku UMKM untuk meningkatkan kesejahteraan.

Pada puncak acara, Rico Waas bersama Airin menyerahkan cenderamata kepada desainer Edward Hutabarat dan Torang Sitorus. Kegiatan juga diisi dengan talk show yang menghadirkan kedua tokoh tersebut sebagai narasumber.(rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *