Teknologi

Rumah Singgah YBM PLN Ringankan Beban Safrida

312
×

Rumah Singgah YBM PLN Ringankan Beban Safrida

Sebarkan artikel ini
Teks: General Manager PLN UID SUMUT, Mundhakir saat menjenguk pasien a.n Safrida di Rumah Singgah YBM PLN yang sedang berjuang melakukan pemulihan sejak Januari 2026.(ist)

MEDAN, Menarapos.id – Perjuangan melawan penyakit tidak pernah mudah, terlebih jika harus dilakukan jauh dari kampung halaman dengan kondisi ekonomi yang terbatas. Situasi itu yang dirasakan Safrida (48), warga Pangkalan Brandan, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat.

Safrida harus menjalani pengobatan akibat keloid pascaluka bakar yang terus tumbuh hingga mengganggu aktivitas sehari-hari. Kondisi tersebut bahkan berdampak pada saraf kaki sehingga membuatnya kesulitan duduk.

Untuk memulihkan kesehatannya, Safrida harus menjalani serangkaian operasi secara bertahap di RSUP H Adam Malik Medan.

Namun, perjuangan itu bukan hanya soal menahan sakit. Safrida dan keluarganya juga dihadapkan pada persoalan biaya selama menjalani pengobatan di Kota Medan.

Suami Safrida bekerja serabutan dengan penghasilan yang tidak menentu. Sementara jarak tempuh dari Pangkalan Brandan ke Medan membuat keluarga harus memikirkan biaya transportasi, tempat tinggal sementara, makan, hingga kebutuhan harian selama masa perawatan.

Di tengah kondisi tersebut, Safrida merasa terbantu dengan keberadaan Rumah Singgah YBM PLN di Jalan Bunga Lau Dalam, Medan Tuntungan, yang lokasinya tidak jauh dari RSUP H Adam Malik Medan.

Rumah singgah tersebut diperuntukkan bagi pasien dan keluarga pendamping yang menjalani pengobatan di rumah sakit rujukan di Medan, khususnya masyarakat kurang mampu dari berbagai daerah.

Safrida mengetahui informasi mengenai rumah singgah itu dari sesama pasien. Setelah menjalani operasi pertama pada Januari 2026, ia mulai tinggal di Rumah Singgah YBM PLN bersama anaknya sejak 15 Januari 2026.

Sejak saat itu, rumah singgah menjadi tempatnya beristirahat dan memulihkan diri sebelum kembali menjalani pengobatan.

Selama Januari hingga April 2026, Safrida telah menjalani tiga kali operasi. Kehadiran rumah singgah membantu meringankan beban biaya yang selama ini menjadi kekhawatiran keluarganya.

“Alhamdulillah sekali, Pak. Dengan adanya rumah singgah ini, kami sangat terbantu. Kami tidak perlu lagi memikirkan biaya kos, makan, dan biaya pulang-pergi dari rumah di Brandan ke rumah sakit. Kami sangat berterima kasih kepada YBM PLN dan seluruh pengelola,” ujar Safrida kepada General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Utara Mundhakir saat menyambangi rumah singgah YBM PLN tersebut, Selasa, 05 Mei 2026 sebagaimana dalam siaran persnya Rabu, 06 Mei 2026.

Bagi Safrida, Rumah Singgah YBM PLN bukan sekadar tempat tinggal sementara. Ia merasa lebih tenang menjalani proses penyembuhan karena tidak lagi terlalu dibebani biaya akomodasi selama berobat di Medan.

Sebagaimana diketahui saat ini, Rumah Singgah YBM PLN memiliki kapasitas untuk menampung 14 pasien. Seluruh kapasitas tersebut telah terisi oleh pasien dari berbagai daerah seperti Langkat, Labuhanbatu, Simalungun, Asahan, Padang Lawas Utara hingga Aceh.

General Manager PLN Unit Induk Distribusi Sumatera Utara, Mundhakir, mengatakan keberadaan Rumah Singgah YBM PLN merupakan bentuk kepedulian insan PLN kepada masyarakat yang sedang berjuang mendapatkan layanan kesehatan.

“PLN tidak hanya ingin hadir menerangi rumah-rumah masyarakat melalui listrik, tetapi juga menghadirkan terang dalam bentuk kepedulian. Melalui YBM PLN, zakat, infak, dan sedekah pegawai dikelola menjadi program yang manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat,” ujar Mundhakir.

Menurutnya, rumah singgah menjadi bukti bahwa kepedulian yang dibangun bersama dapat membantu meringankan beban masyarakat yang sedang berjuang untuk sembuh.

Mundhakir menambahkan, program Rumah Singgah YBM PLN juga sejalan dengan semangat keberlanjutan yang terus didorong PLN.

Menurutnya, keberlanjutan tidak hanya berbicara mengenai transisi energi dan lingkungan, tetapi juga bagaimana perusahaan dapat memberikan dampak sosial secara nyata bagi masyarakat.

“Melalui program seperti Rumah Singgah YBM PLN, kami berharap masyarakat merasakan bahwa PLN hadir bukan hanya sebagai penyedia listrik, tetapi juga sebagai bagian dari kehidupan sosial yang ikut menguatkan dan memberi harapan,” tambahnya.

Bagi Safrida, kehadiran Rumah Singgah YBM PLN bukan hanya membantu mengurangi beban biaya selama pengobatan. Di tempat itu, ia juga merasakan kepedulian dan dukungan yang membuat perjuangannya terasa lebih ringan selama menjalani masa pemulihan.(rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *