Headline

Rico: Keberadaan 255 SPPG Diyakini Dongkrak Gizi Anak

16
×

Rico: Keberadaan 255 SPPG Diyakini Dongkrak Gizi Anak

Sebarkan artikel ini

MEDAN, Menarapos.id – Wali Kota Medan Rico Tri Putra Bayu Waas menegaskan kehadiran 255 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang ditargetkan beroperasi di Kota Medan akan memberikan efek berganda (multiplier effect) yang besar. Selain meningkatkan kualitas gizi anak, program ini diyakini mampu mengurangi kemiskinan, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan roda ekonomi pelaku UMKM lokal.

Penegasan tersebut disampaikan Rico Waas saat membuka High Level Meeting (HLM) Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) tentang Kemitraan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dengan Pelaku Usaha Potensial Kota Medan di Gedung PKK Kota Medan, Jumat (29/5/2026).

Menurut Rico Waas, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan sehat bagi anak-anak sekolah, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam membangun ekonomi kerakyatan melalui ekosistem SPPG.

“Kita ingin anak-anak sehat dan mendapatkan gizi yang standar serta merata. Namun di balik itu ada dapur SPPG yang membutuhkan pasokan bahan pangan dari pelaku usaha di sekitarnya. Di situlah ekosistem ekonomi lokal kita bangun,” ujar Rico Waas.

Ia menjelaskan, program MBG di Kota Medan ditargetkan menjangkau sekitar 700 ribu anak yang tersebar di 21 kecamatan. Untuk mendukung target tersebut, Kota Medan ditargetkan memiliki 255 SPPG.

“Alhamdulillah saat ini sudah aktif sebanyak 235 SPPG. Ini menjadi langkah besar dalam memastikan generasi masa depan Medan tumbuh sehat, cerdas, dan berdaya saing,” katanya.

Rico Waas juga menekankan pentingnya dampak sosial dari program tersebut. Setiap SPPG diproyeksikan mampu menyerap 47 hingga 50 tenaga kerja lokal, dengan prioritas bagi masyarakat rentan yang masuk kategori Desil 1 dan Desil 2 atau kelompok dengan tingkat kesejahteraan terendah.

“Kami berharap yang direkrut adalah masyarakat di sekitar dapur SPPG. Dari yang sebelumnya tidak memiliki pekerjaan, kini bisa memperoleh penghasilan tetap untuk meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” tegas Rico di hadapan ratusan pengelola SPPG dan pelaku usaha yang hadir.

Tak hanya membuka lapangan kerja, Rico juga mendorong agar seluruh dapur SPPG memprioritaskan pembelian bahan baku dari pelaku usaha lokal, mulai dari pedagang pasar, petani urban farming, peternak, hingga pengrajin di lingkungan sekitar.

Ia mencontohkan, peternak lele maupun nila di sekitar lokasi SPPG harus mendapat kesempatan menjadi pemasok tetap kebutuhan pangan program tersebut.

“Nilai kebutuhan pangan program ini sangat besar. Kebutuhan beras per minggu mencapai 183 ton, daging ayam sekitar 21 ton, belum termasuk kebutuhan tempe dan tahu yang jumlahnya juga sangat tinggi. Saya ingin para pelaku usaha kecil mendapatkan akses untuk menyuplai kebutuhan SPPG. Kita ingin pedagang kecil di pasar tersenyum karena setiap hari ada yang membeli dagangannya,” ungkapnya.

Meski berpotensi meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat, Rico Waas mengingatkan seluruh pemangku kepentingan, termasuk Bank Indonesia (BI) dan Badan Gizi Nasional (BGN), untuk mengantisipasi potensi inflasi akibat meningkatnya permintaan bahan pangan.

Karena itu, ia meminta adanya Standar Operasional Prosedur (SOP) yang terintegrasi dari hulu hingga hilir agar rantai pasok berjalan lancar tanpa mengganggu stabilitas harga di pasaran.

“Kalau ingin melihat masa depan Indonesia, lihatlah anak-anak kita hari ini. Berikan mereka gizi, pendidikan, dan fasilitas terbaik. Jika anak-anak sehat dan pelaku usaha kecil mendapatkan penghasilan yang baik, maka ekonomi akan tumbuh lebih kuat dan stabil,” tutupnya.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut Deputi Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Sumatera Utara Didit Widiana, Direktur Pemberdayaan dan Partisipasi Masyarakat Badan Gizi Nasional Tengku Syahdana, serta sejumlah pimpinan perangkat daerah di lingkungan Pemko Medan.(rel)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *